Tritium
(disebut juga Hidrogen-3 , simbol ditulis T atau 3H)
adalah salah satu isotop
radioaktif
dari hidrogen
dan merupakan salah satu daripada tiga bentuk isotop
hidrogen
yang terdiri dari, yaitu protium (hidrogen biasa, ‘H), deuterium (2H atau D), dan
tritium (3H atau T). Tritium tidak stabil, dan akan meluruh menjadi 3He sambil
memancarkan electron (sinar beta). Atom hidrogen biasa terdiri atas proton
sebagai inti yang dikitari sebuah elektron. Inti deuterium yang disebut
deuteron terdiri atas sebuah proton dan sebuah neutron. Inti ini dikitari
sebuah elektron. Massa atom relatif deuterium 2,01410, sementara massa atom
hidrogen 1,007825. Harold C. Urey melaporkan penemuan deuterium pada tahun
1932. Deuterium ditemukannya dengan menyuling hidrogen cair. Deuterium cenderung
tinggal dalam residu penyulingan. Untuk penemuan tersebut Harold C. Urey
mendapat pengakuan dunia berupa Hadiah Nobel 1934. Deuterium bersenyawa dengan
oksigen membentuk D2O yang lazim disebut air berat. Gilbert N. Lewis berhasil
memisahkan deuterium oksida dari dalam air biasa. Kelimpahan deuterium dalam
alam adalah 1 dari 6.700. Deuterium merupakan bahan yang mempunyai peranan
sangat penting dalam pembuatan bom hidrogen serta reaktor atom, Air berat digunakan
sebagai perunut isotop untuk mempelajari proses dan reaksi kimia, terutama biokimia.
Dalam kegiatan riset fisika nuklir deuteron sendiri digunakan sebagai partikel
pembom yang dipercepat dalam apa yang disebut sebuah siklotron atau mesin
pemercepat partikel lain. Campuran deuterium dan tritium pada suhu yang sangat
tinggi (dapat dicapai dengan meledakkan sebuah bom atom kecil) akan mengalami
reaksi paduan yang membebaskan energi maha dahsyat. Reaksi ini disebut reaksi termonuklir,
artinya reaksi nuklir bersuhu tinggi dan terjadi pada ledakan bom hidrogen,
serta proses dalam matahari dan bintang lain
Tritium
sebagai inisial saya di dunia maya, saya yang pernah kehilangan jati diri saya
menganggap diri saya seperti atom hidrogen yang kemudian berubah menjadi
tritium (atom yang tidak stabil). Protium atau atom hydrogen itulah diri saya,
yang secara fitrah manusia adalah baik, dan jika terlihat buruk itu karena perbuatannya sendiri, deuterium atau D itulah
masa lalu saya, dan tritium atau T itulah masa depan saya. Saya hanya manusia
biasa seperti halnya atom hydrogen, hydrogen yang mudah berikatan dengan atom
lain ataupun berikatan dengan dirinya sendiri karena hanya memiliki 1 buah electron,
seperti ketika dulu saya bercita-cita untuk berkeliling Eropa, saya yang
terjadi hanyalah kegagalan yang saya peroleh. Kegagalan itu menyebabkan saya seperti berikatan dengan diri sendiri, seperti atom hydrogen yang
berubah menjadi deuterium. Deuterium merupakan bahan yang memiliki peranan
sangat penting untuk pembuatan bom hydrogen. Begitulah saya, berkutat dengan diri sendiri, menyesali kegagalan
yang saya alami menjadikan saya seperti sebuah detorium yang sewaktu-waktu bisa
saja dijadikan bahan untuk menjadi bom hydrogen. Hampir 6 tahun saya berada pada keadaan deuterium. hitam putih dalam kehidupan terus berjalan hinnga suatu saat saya menyadari bahwa apa yang terjadi pada saya adalah kehendak ilahi,
dan tak perlu berlama-lama saya sesali. Kesadaran itu membuat deuterium lama kelamaan
menjadi tritium (T). Tritium partikel yang tidak stabil, yang akan terus meluruh
dengan memancarkan electron (sinar beta) menuju kestabilan menjadi helium-3, partikel yang
sangat stabil. Yah, seperti itulah saya mengibaratkan diri saya, keadaan
seorang anak manusia yang sedang memperjuangkan cita-cita yang lama pernah
tenggelam dengan terus berusaha memancarkan sinar beta, dan saya berharap sinar
beta yang saya pancarkan berupa kebaikan dan bisa bermanfaat bagi semesta alam.
Dengan menggabungkan deuterium dan tritium, yaitu masa lalu dan masa depan
dapat menjadi sebuah energi yang sangat dahsyat. Hingga suatu saat diri saya
terus meluruh hingga menjadi atom helium-3 yang keadaan stabil dalam dekapan ilahi hingga
akhir hanyat. Dan satu hal yang saya yakini :
wa maa ladzatu Illaa ba'dat ta'bi
(Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar