Powered By Blogger

Minggu, 29 Januari 2017

Filosofi



Tritium (disebut juga Hidrogen-3 , simbol ditulis T atau 3H) adalah salah satu isotop radioaktif dari hidrogen dan merupakan salah satu daripada tiga bentuk isotop hidrogen yang terdiri dari, yaitu protium (hidrogen biasa, ‘H), deuterium (2H atau D), dan tritium (3H atau T). Tritium tidak stabil, dan akan meluruh menjadi 3He sambil memancarkan electron (sinar beta). Atom hidrogen biasa terdiri atas proton sebagai inti yang dikitari sebuah elektron. Inti deuterium yang disebut deuteron terdiri atas sebuah proton dan sebuah neutron. Inti ini dikitari sebuah elektron. Massa atom relatif deuterium 2,01410, sementara massa atom hidrogen 1,007825. Harold C. Urey melaporkan penemuan deuterium pada tahun 1932. Deuterium ditemukannya dengan menyuling hidrogen cair. Deuterium cenderung tinggal dalam residu penyulingan. Untuk penemuan tersebut Harold C. Urey mendapat pengakuan dunia berupa Hadiah Nobel 1934. Deuterium bersenyawa dengan oksigen membentuk D2O yang lazim disebut air berat. Gilbert N. Lewis berhasil memisahkan deuterium oksida dari dalam air biasa. Kelimpahan deuterium dalam alam adalah 1 dari 6.700. Deuterium merupakan bahan yang mempunyai peranan sangat penting dalam pembuatan bom hidrogen serta reaktor atom, Air berat digunakan sebagai perunut isotop untuk mempelajari proses dan reaksi kimia, terutama biokimia. Dalam kegiatan riset fisika nuklir deuteron sendiri digunakan sebagai partikel pembom yang dipercepat dalam apa yang disebut sebuah siklotron atau mesin pemercepat partikel lain. Campuran deuterium dan tritium pada suhu yang sangat tinggi (dapat dicapai dengan meledakkan sebuah bom atom kecil) akan mengalami reaksi paduan yang membebaskan energi maha dahsyat. Reaksi ini disebut reaksi termonuklir, artinya reaksi nuklir bersuhu tinggi dan terjadi pada ledakan bom hidrogen, serta proses dalam matahari dan bintang lain
Tritium sebagai inisial saya di dunia maya, saya yang pernah kehilangan jati diri saya menganggap diri saya seperti atom hidrogen yang kemudian berubah menjadi tritium (atom yang tidak stabil). Protium atau atom hydrogen itulah diri saya, yang secara fitrah manusia adalah baik, dan jika terlihat buruk itu karena perbuatannya sendiri,  deuterium atau D itulah masa lalu saya, dan tritium atau T itulah masa depan saya. Saya hanya manusia biasa seperti halnya atom hydrogen, hydrogen yang mudah berikatan dengan atom lain ataupun berikatan dengan dirinya sendiri karena hanya memiliki 1 buah electron, seperti ketika dulu saya bercita-cita untuk berkeliling Eropa, saya yang terjadi hanyalah kegagalan yang saya peroleh. Kegagalan itu menyebabkan saya seperti berikatan dengan diri sendiri, seperti atom hydrogen yang berubah menjadi deuterium. Deuterium merupakan bahan yang memiliki peranan sangat penting untuk pembuatan bom hydrogen. Begitulah saya, berkutat dengan diri sendiri, menyesali kegagalan yang saya alami menjadikan saya seperti sebuah detorium yang sewaktu-waktu bisa saja dijadikan bahan untuk menjadi bom hydrogen. Hampir 6 tahun saya berada pada keadaan deuterium. hitam putih dalam kehidupan terus berjalan hinnga suatu saat saya menyadari bahwa apa yang terjadi pada saya adalah kehendak ilahi, dan tak perlu berlama-lama saya sesali. Kesadaran itu membuat deuterium lama kelamaan menjadi tritium (T). Tritium partikel yang tidak stabil, yang akan terus meluruh dengan memancarkan electron (sinar beta) menuju kestabilan menjadi helium-3, partikel yang sangat stabil. Yah, seperti itulah saya mengibaratkan diri saya, keadaan seorang anak manusia yang sedang memperjuangkan cita-cita yang lama pernah tenggelam dengan terus berusaha memancarkan sinar beta, dan saya berharap sinar beta yang saya pancarkan berupa kebaikan dan bisa bermanfaat bagi semesta alam. Dengan menggabungkan deuterium dan tritium, yaitu masa lalu dan masa depan dapat menjadi sebuah energi yang sangat dahsyat. Hingga suatu saat diri saya terus meluruh hingga menjadi atom helium-3 yang  keadaan stabil dalam dekapan ilahi hingga akhir hanyat. Dan satu hal yang saya yakini :
wa maa ladzatu Illaa ba'dat ta'bi
(Tidak ada kenikmatan kecuali setelah kepayahan)